Today's Highlights

Articles from Us

Editor Favorites

Latest Updates

FILSAFAT EKOLOGI SOSIAL MURRAY BOOKCHIN | Budhy Munawar-Rachman

Maret 27, 2025

 FILSAFAT EKOLOGI SOSIAL  MURRAY BOOKCHIN

Budhy Munawar-Rachman



Terbit: 2025
x + 396 hlm
14x21 cm
Soft Cover
IDR: xxx


"Dengan membaca buku ini, kita ditantang untuk tidak hanya memikirkan kembali hubungan kita dengan alam, tetapi juga untuk bertindak. Bookchin menolak fatalisme dan pasifisme dalam menghadapi krisis ekologis; ia menganjurkan aksi langsung dan pembangunan struktur alternatif sebagai cara untuk menantang dan akhirnya mengganti sistem yang eksploitatif. Ini bukan hanya teori; ini adalah seruan untuk mobilisasi, sebuah ajakan untuk mengambil bagian dalam gerakan yang lebih besar untuk keadilan ekologis dan sosial."


Maret 19, 2025

 Nana Suryana Sobarie

~ KABAR DARI SEBERANG ~

xi + 120 hlm., 13 x 20 cm
ISBN: …
Cetakan Pertama: …
IDR: 80.000

Penata Isi: Vicky Yuni Angraini
Perancang Sampul: Lutfi Mardiansyah
Lukisan Sampul: Dani Ramdani

~ Bagi saya, Songjiang bukanlah sekadar tempat baru yang bersahabat, lebih dari itu ia selalu menyodorkan hal-hal yang takterduga. Mungkin ini berlebihan dan terkesan kampungan, tetapi itulah yang saya rasakan saat saya, ten-tu saja ketika berada di luar pekerjaan, berjalan-jalan dan melihat berbagai tempat serta perilaku manusia yang tidak jarang mencengangkan. Karena sensasi-sensasi itulah sajak-sajak saya secara alamiah lahir. Tidak ada tema-tema “wah” di dalamnya sebab proses menulis sajak-sajak itu berangkat dari pengalaman keseharian saya sebagai seseorang yang ada di tempat yang takdikenal. Jadi, bisa dikatakan bahwa sajak-sajak saya pun lebih merupakan impresi dari seorang asing yang berada di tempat asing. ~ Kabar Dari Seberang adalah antologi puisi dari seorang akademisi dan sastrawan Nana Suryana Sobarie.


FIQIH SIYASAH DI ERA GLOBALISASI | Prof. Dr. H.B. Syafuri, M.Hum.

Maret 04, 2025

 


Coming Soon
FIQIH SIYASAH DI ERA GLOBALISASI
Prof. Dr. H.B. Syafuri, M.Hum.

14x20cm
297 hlm
Soft Cover
IDR: xxx

Dengan mengadopsi perspektif yang luas, buku ini diharapkan dapat menjadi referensi utama dalam kajian fiqih siyasah kontemporer. Selain itu, buku ini juga bertujuan untuk menawarkan solusi konkret dalam menghadapi berbagai persoalan yang muncul akibat globalisasi, baik dalam aspek politik maupun. Pembaruan fiqih siyasah harus dilakukan dengan tetap berpegang pada maqashid syariah, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Prinsip-prinsip ini harus menjadi landasan utama dalam mengembangkan konsep politik Islam yang lebih adaptif terhadap realitas global.

Fiqih siyasah yang tidak mengalami pembaruan berisiko kehilangan relevansinya dalam dinamika global. Oleh karena itu, kajian ini tidak hanya sekadar akademik, tetapi juga bertujuan untuk memberikan panduan bagi para pembuat kebijakan di negara-negara Muslim agar dapat mengembangkan sistem pemerintahan yang lebih efektif dan adil. Dengan menyusun ulang berbagai konsep dalam fiqih siyasah, diharapkan umat Islam dapat berpartisipasi lebih aktif dalam percaturan politik global. Peran umat Islam tidak hanya sebagai objek dalam kebijakan global, tetapi juga sebagai subjek yang dapat memberikan kontribusi nyata dalam membangun tata dunia yang lebih adil dan harmonis.

Rifki Syarani Fachry, Nabi Kesengsaraan

Februari 14, 2025

 


Antologi Puisi
Judul: Nabi Kesengsaraan
Penulis: Rifki Syarani Fachry

Cetakan pertama, 2025
xxx + xxx halaman, 12x18cm


"Nabi Kesengsaraan" adalah antologi puisi penyair Rifki Syarani Fachry ketiga setelah "Akheiron" yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa. Dalam antologi ini, Rifki sebagai egois bergerak dari gumam mesianik di puncak-puncak makrifat sekaligus menari di atas nyala bara fatalistik. Ini adalah kumpulan puisi yang menghimpun semua arah angin ke dalam "Aku" dan memencarkan Aku ke seluruh penjuru mata angin. Selamat mengeksplorasi jeroan manusia yang anyir namun ilahi.[]

Oktober 02, 2024

 


Judul Buku:

GENERASI MILENIAL DAN KOSMETIK HALAL

(Suatu diskursus relasi pasar)

 

 Penulis: Cici Aulia Permata Bunda

Cetakan Pertama,  2024

56 hlm; 13 x 20 cm

Harga: 30.000,-

Buku ini coba mengangkat diskursus relasi antara generasi milenial dan kosmetik halal melalui telaah pasar. Pembaca akan dibawa ke dalam wacana relasi pasar yang kompleks, terutama saat unsur ini disemarakkan dengan aspek agama di dalamnya. Merupakan buku bacaan bagi mereka yang memperhatikan subjek pasar, produk halal dalam hubungannya dengan generasi milenial dalam bentuk wacana diskursif.

Tauhid sebagai Metafisika Sejati Vice Versa - Syihabul Furqon

September 29, 2024
Tauhid sebagai Metafisika Sejati Vice Versa - Syihabul Furqon
Tauhid sebagai Metafisika Sejati Vice Versa - Syihabul Furqon
Qāf-wa al-Qurāni al-majîd
—(Quran: 50: 1-2)

/a/
KITAB PENYEMBUHAN (As-Syifa’/Sufficientia), Ibn Sina (Avicenna): Ilahiah (Metafisika), merupakan kitab magnum opus dalam domain filsafat Islam Peripatetik. Ditulis oleh Seikh Rais dengan corak integrasi pelbagai doktrin hikmah/falsafah (philosophia) dalam arti tradisionalnya. Sebagaimana dalam tradisi filsafat tradisional yang berakar pada nubuat, kitab ini memberikan isbat yang mengikat dengan nuansa proposisi ketat distingsi antara kutub-kutub domain Wujud Wajib dan Wujud Mungkin. Bagaimana Yang Wajib niscaya Esa (Singular), dan bagaimana darinya melimpah Maujudat (eksisten-eksisten) dalam drama kosmik penurunan bertahap dengan seluruh had, daya, akal, serta jiwa sampai pada titik tolak kembali dalam kenaikan bertahap melalui poros gravitasi cinta dan kerinduan atas Yang Sempurna lagi Wajib. Dengan cara saksama juga diterangkan isbat atas nubuat, sekaligus sebagai isyarat bahwa untuk mencapai Yang Metafisis sang metafisikus  (arif/gnostikus) dibebani oleh limitasi dan hanya saluran tradisilah yang dapat menghubungkan antara Yang Metafisis dan metafisikus vice versa.

Dalam banyak kesempatan penerjemah telah mengupayakan suatu tilikan dari dalam dan tidak akan mengulangi isbat apa pun sekali lagi di sini terkait domain ini. Dalam Kitab Penyembuhan (Makalah Pertama) ini dijelaskan alasan Ibn Sina mengajukan istilah “Ilahiah” sebagai pengganti Ma Ba’da Thabi’ah dan bagaimana metafisika sebagai subjek ilmu universal berfusi dengan doktrin. Bauran ini menciptakan apa yang kemudian jadi corak “metafisika sebagai doktrin”. Faktanya, bukan mana lebih dahulu antara doktrin dan metafisika. Dilihat dari arah al-hikmah al-khalidah (philosophia perennis) titik-titik hikmah dalam bentuk apa pun adalah hikmah dan merupakan sikap yang fatal jika dari titik ini orang terjebak pada formalisme tertentu sekalipun formalisme tertentu dibutuhkan di mana-mana bahkan dalam filsafat. 


Filsafat Islam

Filsafat Islam yang hidup, sekali lagi, melalui pena Ibn Sina dalam banyak para arif lain sampai hari ini, telah menyeberangkan doktrin yang dapat direnungkan secara falsafi—dan sebaliknya, menyeberangkan subjek tertentu dari tradisi filsafat untuk jadi jembatan menuju doktrin. Ini pulalah yang menjadi salah satu alasan mengapa metafisika hanya hidup—dalam maknanya yang sejati, menurut al-hikmah al-khalidah—dalam tradisi. Agama, atau agama-agama senantiasa membawa serta, atau mempertahankan metafisika (atau boleh juga sebaliknya metafisika jadi dasar) dalam pelbagai bentuknya. Dalam mode Islam, metafisika hidup sebagai diskursus Ilahiah; dan tentu saja diskursus ini bukan tidak dipermasalahkan kalangan agamawan tertentu. Namun, faktnya, Hikmah Ilahiah menjadi fondasi munculnya mazhab serupa Isyraqiy/Iluminasi (Suhrawardi) yang berestafet terus sampai Hikmah Muta’aliyyah (Shadra) sampai Haji Mula Hadi Sabzawari dua abad silam dan sekarang berlanjut ke tangan hakim-hakim serupa Nasr, Baqir, Al-Attas dan banyak lainnya di Indonesia yang tinggal menunggu waktunya muncul ke permukaan. Dalam mode lain, metafisika hidup dalam Thomisme (barangkali juga Neo-Thomisme), dan banyak hikmah Timur lain hingga yang bernuansa lokal. Metafisika, atau apa pun nama yang mewakili representasi yang tak terperi, bagai embus angin bergerak ke manapun kehendak Sang Napas menggiringnya.

Selama metafisika ada doktrin terjaga, dan selama doktrin terjaga metafisika akan ada. Karena itu, barangkali orang akan berhasil melacak metafisika sekadar sebagai fakta tekstual sampai Aristoteles, tapi keberhasilan itu juga mestinya menghasilkan rongga lain yang menganga lebih besar, yakni metafisika sebagai realitas yang jejaknya ada di mana-mana namun sekaligus tersamar, dan karena sifat samarnya itu entah berapa banyak yang luput dari perhatian. Sekalipun demikian, karena sifat subjek ini bersifat kulli/universal, keterhubungannya dengan jejak metafisika yang lain senantiasa tersedia. 
Metafisika mestilah integral, sebab menapaki satu jalan (metafisis) adalah menapaki seluruh jalan, sebagaimana benar menyelamatkan satu manusia sama bernilainya dengan menyelamatkan seluruh manusia. Mengatakan bahwa pandangan seperti ini adalah sejenis sinkretisme tidak lain menunjukkan kepandiran metafisis sendiri. Dari arah sini, substansi-substansi takkan tertukar dengan aksiden dan pada puncaknya simbiosis mahiyah/kuiditas dan wujud/eksistensi dalam mode paling pastinya dapat menerangi (sebagaimana judul kitab ini yang adalah Penyembuhan) bagi kebingungan asali manusia akan asal-usul yang adalah Sang Mutlak yang Wajib yang Wujud dan Singular. Lantas apa yang menyebabkan manusia mengidap ketidakmampuan (impotensi) dalam menangkap realitas esensial jika bukan penyangkalan-penyangkalannya sendiri atas kemampuan dan kapasitas dirinya sendiri? Sampai di sini, kalam apa pun semestinya telah memadai.

/z/
Ditinjau dari dalam, metafisika pada dirinya sendiri adalah ‘sesuatu yang tak terbahasakan’ atau menggunakan istilah yang disepakati Schuon dan Guenon: tak manifes (unmanifest). Artinya diskursus ini telah selesai bahkan sebelum dimulai. Tapi tidak jika dilihat dari realitas yang bergerak dan kontingen. Dimensi ruang dan waktu membawa senantiasa alusi pada asal-usul dan melacak ini artinya ‘mundur ke belakang’ dan ‘melacak prinsip’. Mundur dan mencari prinsip akan membawa orang pada, sekali lagi, metafisika, atau sekurang-kurangnya tapal batas antara yang fisik beserta seluruh derivasi ruang dan waktunya dengan yang melampaui semua manifes maujudat ini.

Sekarang jika ditinjau kembali, metafisika mestinya tidak dapat secara persis atau tidak akan pernah cukup membahasakan yang metafisis pada dirinya sendiri yang diselimuti oleh misteri mutlak. Misteri mutlak ini, saat dilacak dengan perangkat yang mumkin, atau yang kontingen, membawa orang pada koordinat yang disebut sebagai ‘wujud’. Anatomi wujud/ada/eksistensi merupakan tapal batas antara yang metafisis dalam domain universalnya dengan penciptaan realitas eksternal. Inilah kontak antara yang tak manifes dengan yang manifes dan para Arif, Hakim serta Mutakallim berlomba menarik dari satu titik diakritik—yang adalah wujud—ke pelbagai manifestasi eksternal. Sekaligus pada saat yang sama meninggalkan misteri total Wujud Wajib/Eksistensi Niscaya/Wujud Niscaya pada dirinya sendiri. Wujud Niscaya pada dirinya sendiri, bagaimanapun, tidak bisa tidak lengkap dan pada akhirnya tidak akan pernah memadai diberi nisbat kecuali isbat yang mengikat bahwa Ia singular (Esa), tak tepermanai, dan bahasa bahkan silogisme takkan pernah memadai mencapainya. Ini adalah ranah yang hanya sedikit orang diberi keberkahan dapat memahami dengan cara ketidakmampuannya untuk memahami. Ini pula ranah yang mana agama-agama banyak bicarakan sebab sifatnya yang mutlak dan merupakan asal-usul: juga merupakan ranah kembali yang tak dapat dielakkan. Quran menyinggung ini sebagai: inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.

Di tingkat ontologis, lebih tepatnya, saat Wujud Wajib ini diturunkan ke dalam kerangka manifestasi kosmologis, secara otomatis ada paradoks yang menyertai. Wujud dibedakan dari Kuiditas (mahiyyah) sejauh dalam kategori penunjuk. Antara kedua prinsip ini, perdebatan panjang dapat ditarik: (a) mereka yang menegaskan asas Wujud, dan (b) mereke yang menegaskan asas Kuiditas. Pada tingkat realitas eksternal, kedua distingsi ini sangat jelas; yang mana kejelasannya muncul dari limitasi materi. Siapapun yang mengatakan Kuda secara otomatis dalam waham orang itu terimprintasi dua hal: “sifat-sifat kategoris yang membuat kuda itu kuda dan beda dengan yang lain” dan sekaligus “wujud jisim kuda”. Di sini tidak ada hambatan berarti. Namun lain soal jika orang, saat mencari asas dan asal-usul realitas dan berujung pada satu asumsi bahwa ada satu hal, mestilah hal itu wujud/ada, dan mestilah sesuatu itu adalah prinsip untuk semua. Namun dalam pelacakan teleologis regresif—sejak bahwa realitas ditangkap sebagai sehimpun aksiden-aksiden kontinu yang mestilah aksiden-aksiden ini bersumber dari substansi sebab tertentu (ar: jauhar-arad)—orang harus menegaskan distingsi yang mutlak yang ditunjuk sebagai Wujud Wajib di satu sisi dan wujud nisbi atau wujud mungkin.

Wujud Wajib, saat coba dikategorikan, mesti tidak memiliki kategori; demikian pula saat dia dimasukkan dalam satu himpun genus tertentu tidak akan bisa, atau apalagi dikelompokkan berdasarkan spesies. Sebab saat semua upaya kategori ini dilakukan, semuanya akan berujung pada paradoks yang mustahil. Dengan demikian Wujud Wajib nirkategori. Namun apa yang dapat mendefinisikan dirinya? Kediaannya. Dalam hal ini disebut kuiditas (mahiyyah). Kembali pada soal prinsip. Jika Wujud Wajib mestilah bersanding dengan Kuiditasnya, maka di antara dua ini mana yang prinsip? Karena menentukan ini orang akan dibawa pada penetapan prioritas dan posterioritas dengan implikasinya masing-masing.

Filsafat Islam

Ibn Sina, sekalipun banyak mendasarkan filsafat/hikmahnya pada anatomi wujud; bagaimanapun mempercayai bahwa suatu wujud tidak akan pernah merupakan wujud tanpa kuiditasnya. Ada semacam dukungan dalam pandangan Ibn Sina pada keasasian kuiditas. Bagaimanapun pandangan ini sejalan dengan banyak kalangan lain seperti Suhrawardi dan bahkan kalangan Mutakallim tertentu. Tapi pandangan ini bukan tanpa hambatan. Terutama, jika kembali pada soal di atas, bahwa saat Wujud pada dirinya sendiri ditangkap waham seseorang, perbedaan antara wujud pada dirinya sendiri dengan kuditasnya menjadi kabur. Wujud pada dirinya sendiri menjadi semata objek makulat dan karena itu terbuka pada kekaburan yang coba ditangkap fakultas epistemologi manusia. Distingsinya menjadi sekabur apakah di antara wujud dan kuiditas bisa dipisahkan sejelas perbedaan antara wujud dan kuiditas kuda seperti contoh di atas, atau justru tidak ada perbedaan antara wujud dan kuiditasnya.
Ditinjau secara metafisis murni, tidak masalah mana yang jadi prinsip sejak bahwa wujud dan kuiditas merupakan salah satu term dari banyak term yang karena sifat term itu sendiri membatasi akan tidak memadai dalam menunjuk secara pasti apa yang hendak ditunjuknya yang adalah prinsip segala (mumkin al-kull) yang juga berarti Ia Yang Tak Terperi. Sekalipun demikian dalam diskursus filsafat Islam, menunjuk secara proposisional wujud atau mahiyah sama pentingnya dengan memberikan markah pada jalan. Tentu saja tidak ada masalah di ranah metafisis. Pasalnya saat realitas itu harus diperikan, maka itu harus diperikan dengan isbat paling kuat dan proposisi paling berisi yang tidak meninggalkan keraguan. Upaya ini merupakan jalan burhan. Saat realitas itu diperikan, maka pemeriannya sama pentingnya dengan memberi marka pada jalan; rambu-rambu harus sejelas dan selaras bentang jalan, jika tidak maka bukan saja orang tidak akan menemukan isyarat yang jelas dari realitas segala, sumbu segala realitas, melainkan akan terlempar dari pusat realitas dan pada gilirannya akan menganggap tidak pernah ada jalan sebagaimana mulai lazim bahwa tidak pernah ada metafisika, atau agama yang memuat markah ke arah metafisika, atau bahkan Tuhan.

Tak kalah menarik untuk dicatat, dari sisi metafisis, karena tidak ada distingsi substansi dan aksiden, maka tidak ada aksiden-aksiden dan substansi-substansi. Di balik itu potensi jadi tiada dan antara satu akibat dengan sebabnya akan terputus. Orang, di titik ini dapat mengatakan dari sisi metafisis tidak pernah ada aksiden—atau bahkan kebetulan. Jika semua aksiden tidak ada yang tersisa adalah semuanya dalam realitas eksternal adalah ‘keselesaian’ dalam ‘proses’ atau ‘proses’ yang sesungguhnya ‘telah selesai’. Dalam Islam, salah satu inti dari tauhid tampak dari sikap tawakal. Suatu etika religius yang menandai hubungan antara manusia yang nisbi dengan Allah sebagai Yang Mutlak. […]


Penulis : Syihabul Furqon
Darmaraja-Sumedang
Rabi’u Tsaniah 1445
Sumedang 2023

Diskursus Jurnalisme Inklusif

September 29, 2024
 
Judul :  
Diskursus Jurnalisme Inklusif
Penulis : Paridah Napilah 
Editor : Neng Hannah
ISBN : -
Buku Softcover 14x20cm
V x 150 hlm
Harga : IDR 55.000,-

PESAN SEKARANG?
>> KLIK DISINI <<

Ini adalah buku yang menyelami konsep jurnalisme yang mengutamakan keberagaman suara dan representasi dalam pemberitaan. Dalam era informasi yang semakin kompleks, buku ini mengajak pembaca untuk memahami pentingnya jurnalisme yang tidak hanya akurat, tetapi juga adil dan inklusif.
Melalui serangkaian analisis, penulis menggali tantangan yang dihadapi media dalam menciptakan ruang bagi berbagai perspektif, termasuk suara kelompok marginal dan minoritas. Buku ini juga menyoroti praktik terbaik serta contoh nyata dari jurnalis dan organisasi media yang berhasil menerapkan prinsip-prinsip inklusi dalam peliputan mereka.

Dengan pendekatan interdisipliner, buku ini dapat menjadi panduan bagi jurnalis, akademisi, dan pembaca umum yang ingin memahami bagaimana media dapat berkontribusi pada masyarakat yang lebih adil dan setara. Dilengkapi dengan wawancara dan studi kasus, buku ini menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang berkomitmen untuk memajukan jurnalisme yang lebih responsif dan humanis.

Untuk mendapatkan buku ini, silahkan pesan dengan mengklik tombol dibawah atau tombol diatas, Terima Kasih.


Harmoni Dalam Keberagaman - Jurnalisme Inklusif Untuk Kebangsaan dan Kesetaraan

Agustus 12, 2024
 
Judul :  
Harmoni Dalam Keberagaman - Jurnalisme Inklusif Untuk Kebangsaan dan Kesetaraan
Penulis : Inklusi PW Fatayat NU Jawa Barat
ISBN : -
Buku Softcover 70 hlm, 14x21 Cm
Harga : IDR 55.000,-

PESAN SEKARANG?
>> KLIK DISINI <<

Buku ini menyajikan eksplorasi mendalam mengenai peran jurnalisme inklusif dalam membangun harmoni dalam keragaman dan memajukan kebangsaan serta kesetaraan. Melalui berbagai studi kasus dan contoh praktis, penulis menunjukkan bagaimana media yang adil dan representatif dapat menghubungkan berbagai kelompok sosial, mengurangi stereotip, dan memperkuat dialog antarindividu dari latar belakang yang berbeda. 

Buku ini menjadi panduan penting bagi jurnalis, akademisi, dan pembaca umum dalam memahami bagaimana pemberitaan yang inklusif dapat berkontribusi pada masyarakat yang lebih egaliter dan harmonis, serta memotivasi pembaca untuk berperan aktif dalam menciptakan dunia yang lebih adil.

Untuk mendapatkan buku ini, silahkan pesan dengan mengklik tombol dibawah atau tombol diatas, Terima Kasih.


Generasi Milenial Dan Kosmetik Halal (Suatu Diskursus Relasi Pasar)

Agustus 08, 2024
Judul :  
Generasi Milenial Dan Kosmetik Halal (Suatu Diskursus Relasi Pasar)
Penulis : Cici Aulia Permata Bunda (dkk)
ISBN : -
Buku Softcover 110. hlm, 14x 20 Cm
Harga : IDR 65.000,-

PESAN SEKARANG?
>> KLIK DISINI <<

Dalam situasi pasar yang semakin bergerak ke arah kesadaran global, betapa penting untuk memetakan sejauh mana pengaruh kesadaran pasar atas produk yang ramah lingkungan. Bagaimanapun kerap terjadi ketegangan signifikan antara pasar global dan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan. Secara spesifik kesadaran lingkungan dapat berarti pemilihan produk dalam kategori organik dan dikembangkan berdasarkan asas-asas kelestarian lingkungan, asas keaslian dan minimnya campur tangan manusia yang bersifat tambahan berlebihan dalam pengolahan suatu produk. Pentingnya telaah demikian itu hari ini semakin mendesak. Tetutama di kalangan anak muda. 

Di sisi lain, agama memberikan peran tambahan dalam mendorong kesadaran pasar berjenis baru. Suatu komoditas dalam kategori agama harus memiliki ciri khusus, dalam kasus Islam, mesti halal. Artinya tiga aspek baik pasar, pengaruh agama dan kesadaran akan produk ramah lingkungan semakin mendesak untuk dipetakan secara keilmuan. Karena itu, dalam telaah ini penulis coba menyigi dan menyiangi aspek-aspek yang sedianya saling menopang dan atau malah saling bertolak belakang. Besar harapan penulis supaya telaah ini menjadi pertimbangan bagi khalayak luas, baik dari kalangan akademisi maupun perorangan, untuk menjadi pedoman dalam leksikon ekonomi, agama dan terkhusus segmentasi kesadaran hijau.

Untuk mendapatkan buku ini, silahkan pesan dengan mengklik tombol dibawah atau tombol diatas, Terima Kasih.


Pembelajaran Berbasis Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum Di Perguruan Tinggi

Juni 15, 2024
Judul :  Pembelajaran Berbasis Proyek Mata Kuliah Wajib Kurikulum Di Perguruan Tinggi
Penulis : Anwar Taufik Rakhmat, M.Pd. Et al
ISBN : -
Harga : IDR 50.000,-

PESAN SEKARANG?
>> KLIK DISINI <<

Hadirnya Buku ini merupakan salah satu bukti nyata dalam upaya penguatan dan pengembangan pembelajaran pada Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) di Perguruan Tinggi. Mata Kuliah Wajib Kurikulum merupakan bagian kurikulum perguruan tinggi yang wajib diberikan kepada mahasiswa. Untuk menghasilkan hasil pembelajaran yang bermakna dan mendorong kepada hasil pembelajaran yang optimal diperlukan segenap komponen pembelajaran yang mendorong potensi mahasiswa diaktualisasikan dengan baik dan diarahkan kepada peningkatan karakter serta kompetensi yang dibutuhkan mahasiswa. Buku Pembelajaran Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) berbasis proyek merupakan salah satu buku yang berisi model pembelajaran yang membimbing mahasiswa agar memiliki kepekaan terhadap persoalan yang ada di sekitar mereka dan mampu mengidentifikasinya, menganalisis dan menyintesis, kemudian berupaya mencari solusi terhadap persoalan yang dihadapinya. 

Dengan diawali pembekalan terhadap literasi atau materi kuliah yang cukup, mahasiswa diharapkan mampu mendapatkan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan berdampak pada kognisi, dan afeksi mahasiswa. Buku ini bisa digunakan sebagai panduan bagi dosen dan mahasiswa untuk bisa menjalankan aktivitas perkuliahan Mata Kuliah Wajib Kurikulum berbasis proyek. pada buku 3 ini dosen dan mahasiswa dipandu untuk bisa menjalankan perkuliahan dengan memanfaatkan semua sumber pembelajaran yang ada, dengan tema yang disediakan mahasiswa menentukan topik dan objek yang kemudian dijadikan proyek bersama kelompok. Pada prosesnya proyek kelompok bisa berkolaborasi dari dua mata kuliah MKWK yang dilakukan secara bersama-sama, baik Mata Kuliah Agama, Bahasa Indonesia, Pancasila maupun Kewarganegaraan. Buku Pembelajaran MKWK berbasis proyek ini berisi tentang konsep umum tentang Mata Kuliah Wajib Kurikulum, Pembelajaran MKWK berbasis proyek, materi pokok pembelajaran, tema dan topik Proyek, langkah dan prosedur proyek, asesmen, dan Rencana Pembelajaran Semester (RPS)

Untuk mendapatkan buku ini, silahkan pesan dengan mengklik tombol dibawah atau tombol diatas, Terima Kasih.


 
Copyright © Penerbit YAD. Designed by OddThemes