Risalah ini tidak memulai pembahasannya dari istana, tentara, pejabat, atau wilayah kekuasaan. Taşköprīzāde memulainya dari diri manusia. Manusia dipandang sebagai alam kecil yang menghimpun berbagai unsur alam besar. Di dalam dirinya terdapat sebuah kerajaan. Ruh menduduki kedudukan sebagai penguasa. Akal menjalankan tugas sebagai wazir. Otak menjadi istana tempat berlangsungnya pengaturan. Pancaindra menjadi pintu masuk informasi. Daya khayal menyimpan gambaran, ingatan menjaganya, sedangkan daya pengolah menilai dan membedakan yang benar dari yang keliru. Semua hasil pengamatan kemudian disampaikan kepada akal, lalu diteruskan kepada ruh untuk diolah menjadi amal yang mendekatkan manusia kepada Allah.












